You are currently browsing the monthly archive for April, 2008.

Yayasan Konfiden bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta (CCF Jakarta), menyelenggarakan Pendidikan Kilat (Diklat) Pengelolaan Pertunjukan Film selama bulan April 2008. Bertempat di CCF Salemba, workshop ini melibatkan siswa SMU, Mahasiswa, serta kelompok Gelanggang Remaja. Diklat ini membahas pengetahuan dasar bagaimana mengelola sebuah program pemutaran film dalam berbagai konteks; konsep, teknis, serta hal-hal yang lain yang melingkupinya.

Salah satu tujuan dari Diklat ini adalah melahirkan programmer film yang handal sebagai usaha regenerasi. Menurut T. Lintang G., koordinator workshop dari Yayasan Konfiden, kita tidak banyak memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menjadi seorang programmer pertunjukan film. Selama ini, distribusi pengetahuan ini tidaklah berjalan dengan mulus.

partisipan workshop

Melihat semakin banyaknya program pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas film serta kine klub di Indonesia, pengetahuan mengenai pengelolaan pemutaran film yang baik adalah kebutuhan yang sangat mendesak.

Kami ingin Diklat ini selain mengajak partisipan untuk melakukan pembelajaran bersama, juga menghasilkan satu modul mengenai pengelolaan pemutaran film yang dapat didistribusikan kepada publik. Bagaimanapun, sebagai sebuah aktivitas kultural, acara pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas film dan sejenisnya perlu untuk dijaga keberlangsungannya dan Diklat ini menawarkan ruang belajar bersama untuk mengelola program pertunjukan film agar terlaksana dengan baik sehingga apresiasi publik pun dapat berlangsung dengan baik, jelas Agus Mediarta, programmer Yayasan Konfiden.

suasana workshop

Materi Diklat terdiri dari 4 bagian besar; Konsep menonton dan penonton, sejarah film, konsep-teknis persiapan, dan dasar -dasar pengelolaan. Dengan materi-materi tersebut, diharapakan partisipan dapat memahami secara menyeluruh proses kreatif dan teknis dalam sebuah pertunjukan film.

Salah satu output dari workshop ini partisipan akan melakukan praktek membuat program pertunjukan film baik ditempat mereka masing-masing, di CCF Jakarta, serta kami juga akan mencoba bekerjasama dengan pusat kebudayaan serta ruang kreatif lainnya untuk memfasilitasi partisipan dalam melakukan ujicobanya. Ini juga sebagai satu usaha mengajarkan partisipan untuk mebangun jaringan, ujar Lintang.