You are currently browsing the monthly archive for February, 2008.

acourts13.jpg

à courts d’écran #13
Festival Film Pendek Konfiden (KonFest) 2007
Sabtu, 8 Maret 2008
Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta
Jalan Salemba Raya no. 25 Jakarta Pusat 10440
15h00

Pada bulan November 2007 lalu, yayasan Konfiden kembali menggelar Festival Film Pendek konfiden (KonFest). Festival film pendek yang berskala nasional ini telah merangkum 32 film pendek dalam program kompetisi, dari 181 karya yang masuk.

Seperti apakah pencapaian KonFest kali ini? Apa yang baru dari karya-karya yang masuk dalam festival? Persoalan apa yang muncul dalam penyelenggaraan kali ini? à courts d’écran kali ini menampilkan 3 film pendek pemenang penghargaan dalam KonFest 2007 dilanjutkan dengan diskusi bersama T. Lintang G., manajer Festival Film Pendek Konfiden.

chengchengpo.jpg
Cheng-Cheng Po
B. W. Purba Negara
Fiksi | Yogyakarta | 17:00 | 2007 | LimaEnam Films

Semacam cara jenaka untuk memaknai Bhinneka Tunggal Ika. Film ini berkisah tentang Markus dan kulit hitamnya. Tyara dengan batik parang garuda, dan Tohir dengan inspirasi teka-teki silang untuk membantu sahabat mereka. Han, seorang anak lelaki Tionghoa yang hampir kehilangan mimpinya. Bagi anak-anak itu, memahami perbedaan adalah persoalan yang sederhana, sesederhana cheng-cheng po.
Peroleh Penghargaan Film Pendek Terbaik Pilihan Penonton
Festival Film Pendek Konfiden 2007
jalan-sepanjang-kenangan.jpg
Jalan Sepanjang Kenangan
Eddie Cahyono
Fiksi | Yogyakarta | 30:00 | 2007 | Fourcolours Films, ISI Yogyakarta

Ngidam! Demi jabang bayi yang dikandung Susi, Slamet rela memenuhi keinginan istrinya dengan menyusuri kembali jalan kenangan mereka, meski harus berbohong kepada atasannya. Kenangan lama diulang, ada rasa suka, duka, haru, dan cemburu.
Peroleh Penghargaan Film Fiksi Pendek Terbaik
Festival Film Pendek Konfiden 2007

di-atas_relmati.jpg
Di Atas Rel Mati
Nurfitria Napiz dan Welldy Handoko
Dokumenter | Jakarta | 16:00 | 2006

Wahyudi, Ropik, Ade, dan Wanto menuturkan keseharian mereka sebagai anak lori. Anak-anak ini mencoba bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dau Atas, Ancol-Jakarta.
Peroleh Penghargaan Film Dokumenter Pendek Terbaik
Festival Film Pendek Konfiden 2007